Menurut United Nations International Stategy for Disaster Reduction (UNISDR; Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Risiko Bencana) menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling rentan terhadap bencana alam. Bahkan untuk beberapa jenis bencana alam, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam paparan terhadap penduduk atau jumlah manusia yang menjadi korban meninggal akibat bencana alam. Inilah yang menasbihkan Indonesia sebagai negara dengan resiko dan dampak bencana alam tertinggi di dunia (www.unisdr.org).
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki berbagai potensi alam yang melimpah. Namun di samping itu, letak geografisnya yang berada di antara lempengan besar bumi yakni, Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik yang menyebabkan Indonesia berpotensi terhadap bencana alam. Seperti gempa bumi,dan sunami. Disamping itu komponen, aktifitas komponen-komponen atmosfer juga begitu terganggu oleh karena ulah manusia sehingga potensi cuaca ekstrim sangat besar.
Karena Indonesia menjadi salah satu negara yang rawan bencana alam, Indonesia seharusnya mempunyai standar penanganan yang baik terhadap dampak bencana alam. Mengingat bencana alam yang terjadi selain disebabkan oleh faktor alam juga oleh faktor manusia yang merusak alam, maka sudah sepatutnya kita bertindak lebih arif terhadap alam.
Berdasarkan kondisi ini negara berkewajiban untuk menyiapkan setiap individu dalam masyarakat yang selalu siap siaga terhadap bencana. Hal ini difungsikan agar dapat mengurangi dampak bencana dalam kehidupan masyarakat. Disinilah bidang Ilmu Geografi Begitu berperan. Ilmu yang notabene mempelajari permukaan bumi yang terdiri dari aspek-aspek geosfera ini diharapkan dapat menjadi inisiator dalam menciptakan masyarakat yang arif terhadap kondisi lingkungan dan tanggap terhadap bencana yang sering melanda Di Indonesia . (Prof. Dr. Suratman W. S,M. Sc : Tahun 2011)
Geografi ingin kembali merevitalisasikan bidang ilmunya pada bencana-bencana fisik maupun sosial yang melanda diberbagai belahan daerah Indonesia, terbukti dengan adanya pembuatan buku Swaliba, Kepemimpinan Dalam Lensa Geografi, Geografi Lingkungan dan sebagainya. Tak hanya itu, berbagai teknologi pun telah geografi terapkan seperti, GPS (Global Positioning System), GIS (Global Information System), RS (Remote Sensing) dan berbagai bentuk lembaga/organisasi geografi yang ikut berperan serta dalam mengahadapi bencana nasional.
Geografi telah berhasil: (i) menyakinkan Diknas untuk menjadikan mata pelajaran geografi menjadi salah satu mata pelajaran wajib untuk Ujian Nasional di tingkat SMA, (ii) Mengadakan Olimpiade Geografi untuk SMA (hingga sekarang sudah dilakukan 3 periode). Pemenang pertama mendapat kemudahan untuk diterima di Fakultas Geografi dan beasiswa selama 4 tahun/hingga lulus, (iii) Aktif di bidang kebencanaan : misal UGM Peduli Aceh yang dimotori oleh Prof. Sutikno (hingga sekarang), (iv) Masuk dalam TTN (Tim Teknis Nasional) Banjir, yang banyak menangani masalah banjir, misalnya di daerah Cepu, Blora, Ngawi, Bojonegoro, dsb, (v) Mempelopori Museum/Laboratorium Alam Pantai (Parangtritis); Museum Gempabumi, Pusat Informasi Karst, dll, (vi) Fakultas Geografi dimasukkan ke dalam tim perumus RUU Bencana Alam, (vii) Beberapa dosen telah menjadi kolumnis di koran KR (Pak Sudibyakto, Pak Sukamdi). Sedangkan jurusan yang ada di Fakultas Geografi UGM saat ini dibagi menjadi dua yaitu Geografi & Ilmu Lingkungan dan Sains Informasi Geografi & Pengembangan Wilayah. (sumber ; http://iwangeodrs.yolasite.com)
Bencana saat ini sedang massif terjadi Di Indonesia termasuk Di sumatera Barat yang notabene dilewati jalur patahan lempeng dunia. Oleh sebab itulah lokasi negara ini berada pada “ring of fire”. Sayangnya kesadaran bangsa ini akan bencana baru muncul disaat terjadi Gempa Bumi dan Tsunami di Aceh pada tahun 2004. Hampir setiap tahunnya catatan akan bencana terus terjadi. Bukan hanya bencana geologi akan tetapi bencana klimatologi yang disebabkan oleh perubahan iklim global.
Universitas Negeri Padang sebagai universitas yang berhadapan langsung dengan wilayah pantai dan Samudera Hindia dengan lempeng Eurasia-nya memungkinkan banyak timbulnya bencana terutama bencana gempa dan tsunami, namun seiring dengan berjalanya waktu, UNP telah membantu mewujudkan kesiapsiagaanya terhadap bencana, yaitu dengan menerapkan model siaga bencana berbasis kelas, seperti ; gugus siaga bencana FIP, gugus siaga bencana FIS, gugus siaga bencana FIK, gugus siaga bencana FT, gugus siaga bencana Pustaka dan gugus bencana BAUK. Gedung-gedung fakultas tersebut berfungsi sebagai shelter bencana. Kemudian Tahun sebelumnya UNP juga melakukan kegiatan-kegiatan yang bernuansa kegeografian, diantaranya “Go Green, Aksi Menanam 1000 Pohon”, Workshop Mitigasi Bencana, Pelatihan Relawan dan sebagainya. Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa UNP sudah menggerakkan dirinya untuk ikut serta berperan aktif dalam hal yang terkait dengan kebencanaan. Untuk itu harapan kedepan, UNP dan Jurusan Geografi FIS UNP dapat mengoptimalisasi pergerakanya dalam menghadapi bencana nasional khususnya di Sumatera Barat.
Undangan dan Proposal dapat diunduh di sini.
*nb: HTM untuk peserta diturunkan menjadi Rp. 350.000,00/ orang

Anda dapat berlangganan konten berita terbaru dari website IMAHAGI melalui email.
semangat sob … kita bisa ….
salam. jurusan geografi dalam hal ini HMJ telah melakukan berbagai hal dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan sebagai bentuk respon terhadap kondisi yang ada. puluhan kali gempa besar telah melecut warga UNP untuk terus menata dan berkaca serta belajar. HMJ geografi dalam kegiatan workshop siaga bencana tahun 2010 telah mengeluarkan protap siaga bencana bersama dengan mercy corp dan sudah ditempel dan sosialiasasikan. namun, bukan berarti warga UNP sudah siap dengan berbagai ancaman. masih banyak hal yang harus diperbaiki. semoga seminar dan kongres nanti akan semakin memperkuat kesiapsiagaan dan menumbuhkan kesadaran untuk hidup dalam keseimbangan dan sadar alam.